July 19, 2022 By maratmychaels.com 0

Dongeng Anak Sebelum Tidur yang Mendidik

Dongeng Anak Sebelum Tidur yang Mendidik

Mendongeng merupakan salah satu aktivitas yang mampu membangun kedekatan orang tua dan anak lho, Bunda. Menurut Sarah McGeown, dosen psikologi perkembangan di Universitas Edinburgh, membaca buku cerita dan bercerita bersama anak merupakan aktivitas bonding yang menyenangkan.
Dengan membacakan dongeng untuk anak, tidak cuma sekadar menghibur, tapi juga tingkatkan wawasan sekaligus menanamkan nilai-nilai moral pada diri mereka. Pendongeng Agus DS atau biasa disapa Kak Agus didalam bukunya berjudul Tips Jitu Mendongeng (2009) mengatakan, “Mendongeng adalah salah satu langkah untuk menanamkan nilai luhur pada anak serta salah satu langkah untuk belajar berbahasa, bernalar, dan berekspresi.”

Baca Juga :
Anak Batuk Pilek? Jangan Khawatir, Coba 4 Cara Simpel Ini Bun!
Bagi anak, dongeng sebenarnya mampu jadi aktivitas yang menyenangkan. Sementara bagi orang tua yang mendongengkan, ini mampu berguna sebagai tempat untuk mengajari anak dapat sesuatu.

PlayUnmute
Fullscreen

Sementara itu, ada beberapa dongeng yang amat bagus untuk edukatif anak. Dikutip berasal dari beragam sumber, selanjutnya dongeng anak yang cocok dibacakan sebelum tidur.

Family bedtime. Mom and children daughters are reading a book in tent. Pretty young mother and lovely girls having fun in children room.Ilustrasi mendongeng/ Foto: iStock
Burung Bangau yang Angkuh
Seekor bangau berjalan bersama langkah yang anggun di sepanjang sebuah sungai kecil, matanya menatap air sungai yang jernih, leher dan paruhnya yang panjang siap untuk menangkap mangsa di air sebagai sarapan paginya. Saat itu, sungai dipenuhi bersama ikan-ikan yang berenang, tapi sang Bangau merasa sedikit angkuh di pagi hari itu .

“Saya tak senang makan ikan-ikan yang kecil,” katanya kepada diri sendiri. “Ikan yang kecil tidak pantas dimakan oleh bangau yang anggun layaknya saya.”

Sekarang, seekor ikan yang sedikit lebih besar berasal dari ikan lain, melalui di dekatnya.

“Tidak,” kata sang Bangau. “Saya tidak dapat menyulitkan diri aku untuk membuka paruh dan memakan ikan sebesar itu!”

Saat matahari merasa meninggi, ikan-ikan yang berada pada air yang dangkal dekat pinggiran sungai, akhirnya berenang ganti ke tengah sungai yang lebih didalam dan dingin. Sang Bangau yang tidak menyaksikan ikan lagi, terpaksa perlu suka bersama memakan siput kecil di pinggiran sungai.

Cerita ini mengajarkan anak untuk tidak bersikap angkuh, Bunda. Karena karakter ini cuma dapat merugikan, baik orang lain maupun pada diri sendiri cerita dongeng sebelum tidur .

Baca Juga :
10 Film Kartun Terbaik untuk Anak yang Mendidik
Kancil dan Buaya
Suatu hari, ada seekor kancil yang tengah berjalan-jalan di didalam hutan untuk melacak makanan. Karena makanan di lebih kurang kediamannya telah berkurang, Sang Kancil pun pergi untuk melacak di luar kawasannya. Di tengah jalan, ia perlu menyeberang sungai yang dihuni banyak sekali buaya besar yang amat lapar. Kancil pun berpikir sejenak, lalu ia mendekat ke tepi sungai.

“Hai buaya, apakah kau telah makan siang?” tanya kancil bersama suara yang dikeraskan.

Tak lama kemudian, munculah seekor buaya berasal dari permukaan air, “Siapa yang berteriak siang-siang begini? Mengganggu tidur saja.”

“Hai kancil, diam kau! Kalau tidak, aku makan nanti kamu,” timpal buaya yang lain.

“Aku berkunjung ke sini untuk menyampaikan pesan berasal dari raja hutan, jadi janganlah kau makan aku dulu,” jawab kancil.

“Ada apa sebenarnya kancil, ayo cepat katakan,” kata buaya.

“Baiklah. Raja hutan memintaku untuk menghitung jumlah buaya yang ada di sini. Raja hutan hendak mengimbuhkan hadiah untuk kalian,” ujar kancil.

“Jadi sekarang, panggil seluruh temanmu,” lanjutnya.

Mendengar perihal itu, buaya amat suka dan segera memanggil seluruh kawannya untuk berbaris berjajar di permukaan sungai. Namun, mereka seluruh ternyata cuma diperdaya oleh si kancil.

Dengan cerdik, si kancil segera pergi sesudah menghitung buaya paling akhir di ujung sungai dan lolos berasal dari cengkraman buaya yang lapar.

Kisah kancil dan buaya mengajarkan bahwa kecerdikan mampu mengalahkan kekuatan. Meskipun berada di suasana sesulit apapun. Meski begitu, berbohong juga tidak patut dibenarkan ya, Bunda.

Aji Saka
Pada dahulu kala, ada sebuah kerajaan bernama Medang Kamulan yang diperintah oleh raja bernama Prabu Dewata Cangkar yang buas dan suka makan manusia. Setiap hari sang raja memakan seorang manusia yang dibawa oleh Patih Jugul Muda. Sebagian kecil berasal dari rakyat yang resah dan keresahan mengungsi secara diam-diam ke area lain.

Di dusun Medang Kawit hidup lah pemuda yang bernama Aji Saka yang sakti, rajin dan baik hati. Suatu hari, Aji Saka berhasil menolong seorang bapak tua yang tengah dipukuli oleh dua orang penyamun. Bapak tua yang akhirnya diangkat jadi bapak oleh Aji Saka itu ternyata pengungsi berasal dari Medang Kamulan.

Mendengar cerita normalitas Prabu Dewata Cangkar, Aji Saka berniat menolong rakyat Medang Kamulan.

Singkat cerita, Aji Saka tiba di Medang Kamulan yang sepi. Sementara di Istana Prabu Dewata Cangkar tengah murka karena Patih Jugul Muda tidak membawa korban untuk sang prabu.

Dengan berani, Aji Saka menghadap Prabu Dewata Cangkar dan menyerahkan diri untuk disantap oleh sang Prabu bersama imbalan Tanah seluas serban yang digunakannya.

Saat mereka tengah mengukur tanah cocok keinginan Aji Saka, serban tetap memanjang sehingga luasnya melebihi luas kerajaan Prabu Dewata Cangkar. Prabu marah sesudah mengetahui tekad Aji Saka sesungguhnya. Namun, bersama sigap Aji Saka melilit kuat tubuh sang prabu yang kemudian dilempar ke laut hingga hilang ditelan ombak.

Aji Saka kemudian dinobatkan jadi raja Medang Kamulan serta memboyong ayahnya ke Istana. Berkat pemerintahannya yang adil dan bijaksana, Aji Saka mengantarkan kerajaan ke zaman keemasan.

Cerita ini mengajarkan untuk menggerakkan amanat hendaklah dijalankan bersama sebaik-baiknya. Sebab, orang yang memegang dan menggerakkan amanat bersama baik dapat meraih kehormatan di kemudian hari.